Pelaihari, TARGET. Persidangan perkara tipikor kasus dugaan korupsi yang menyeret mantan Direktur Utama RSUD Boejasin Pelaihari beserta dua staf bagian keuangan belum selesai, namun aroma tak sedap kembali mengiringi rumah sakit yang telah diresmikan pada 14 Desember 2019 lalu.
Bagaimana tidak kondisi bangunan berlantai 5 yang pembangunannya dimulai sejak tahun 2016 – 2018 kemudian dilanjutkan pada 2018 – 2019 dengan sistem multiyear tersebut dipertanyakan oleh LSM Gantara Kalsel.
Bangaimana tidak, bangunan mahal bernilai Rp. 300 miliar tersebut kondisinya saat ini cukup memprihatinkan, selain dibeberapa bagian bangunan sudah terdapat beberapa keretakan, juga adanya rembesan air apabila terjadi hujan, rembesan mulai berasal dari lantai 5 sampai lantai 1.
Temuan ini sendiri didapat oleh LSM Gantara Kalsel yang melakukan investigasi ke rumah sakit tersebut pada Rabu 28 April 2021.
“Kami menduga pekerjaan yang dilakukan tidak seusai dengan tehnis pengerjaan sehingga menyebabkan banyak bangunan retak dan kondisi bangunan tidak nyaman untuk sebuah rumah sakit daerah,” ungkap Herry Yanto ketua LSM Gantara Kalsel, Jumat (30/4/2021)
Pihaknya menyayangkan bangunan bernilai ratusan miliar rupiah tersebut yang belum lama tadi diresmikan bertepatan dengan hari jadi Kab Tanah Laut tahun 2019 lalu dibangunan oleh sebuah perusahaan berskala nasional yakni PT. PP.
“Kami berencana mendesak pihak kejaksaan maupun kepolisian untuk mengusut tuntas kasus ini, masa bangunan yang baru dua tahun dipergunakan kondisinya sudah seperti yang kami temukan dilapangan,” pungkas Herry Yanto.
Sayangnya saat dikonfirmasi pihak terkait sedang tidak bisa dihubungi. Tim

