Membina, Ataukah “Mambulantik” Atlit? Oleh: Noorhalis Majid

Target Post.net – Banjarmasin. Organisasi terbesar di daerah yang mengurus olahraga dan atlit, kabarnya akan dirombak dan ditata ulang. Sudah jadi rahasia umum, periode sebelumnya dianggap tidak berjalan maksimal. Bukan saja karena ketiadaan anggaran, lesunya dukungan finansial. Juga karena lemahnya tata kelola organisasi. Ada banyak persoalan yang harus dibenahi. Mulai dari sumber daya manusia, sistem dan aturan main, hingga hal yang paling mendasar, yaitu mental dan motivasi pengelolanya dalam membina dan menjalankan roda organisasi. Banyak yang meragukan, apakah benar-benar membina, ataukah justru sebaliknya, “mambulantik” atlit dan organisasi olahraga untuk kepentingan diri sendiri.

Sejumlah persoalan mendasar, lahir dari mental yang buruk, mengakibatkan organisasi olahraga tidak berjalan secara sportif sebagaimana seharusnya organisasi olahraga dijalankan. Sportivitas hanya jadi slogan, jargon dan semboyan. Dalam praktiknya, jauh panggang dari api. Praktik buruk, permainan kotor, tipu muslihat, hanya untuk kepentingan cetek yang tidak bermakna bagi kemajuan olahraga itu sendiri.

Jual beli dan distribusi atlit, pengaturan skor hasil pertandingan, pengaturan lawan tanding dan skema agar bisa juara. Pengaturan perolehan jatah medali bagi tuan rumah, penentuan cabang olahraga yang boleh dipertandingkan, kong-kalikong official pertandingan dalam mengatur siapa yang dimenangkan, dan lain-lain, adalah hal-hal yang menyebabkan sportivitas sudah tidak bermakna.

Begitu juga di wilayah hulu, terkait pembinaan atlit, sarana prasarana latihan, kualitas pelatih yang sangat terbatas, campur baur pengelolaan organisasi antara pengurus dan pelatih yang jauh dari profesionalitas, minimnya kesempatan menimba pengalaman bagi atlit dan pelatih, pembinaan dan pengaturan kesempatan bertanding, serta kurangnya penciptaan event-event berkualitas untuk menguji dan melatih jam terbang atlit. Kalau semua hal-hal terkait wilayah hulu ini tidak dibenahi, jangan berharap atlit dan pengembangan olahraga akan setara serta bersaing dengan daerah lain di Indonesia. Terutama terkait pelatih, bila pelit dalam mendatangkan pelatih-pelatih berkualitas, tidak akan lahir atlit-atlit berkualitas.

Pun terkait bonus sebagai motivasi dan pemberi semangat bagi atlit. Mengingat atlit usia produktifnya sangat terbatas, maka bonus yang layak bagi atlit akan sangat memotivasi bertumbuhnya generasi muda untuk mau berlatih menjadi atlit yang handal. Kalau bonus atlit masih kecil dan itu pun dipotong oleh pengcab, cabor atau pelatih. Kalau atlit layaknya “sapi perahan” yang bonusnya disunat atas bawah, kalau pengcab dan cabor mentalnya masih “mambulantik” dan korup, maka sampai kapan pun olahraga dan atlit tidak akan dapat berkembang.

Belum lagi terkait mental para pengurus organisasi olahraga. Ada banyak pengurus yang serakah, satu orang mengurus 3 hingga 6 cabor, menyebabkan sebagian besar dana olahraga hanya dinikmatinya sendiri. Ada pelatih yang melatih lebih dari 3 cabang olahraga berbeda, sehingga tidak fokus dan jauh dari profesionaitasl. Ada pengurus pengcab dan cabor yang hanya mencari duit, sehingga menjual segala yang bisa diperdagangkan, termasuk memperdagangkan atlit dan kesempatan bertanding.

Semoga saja perombakan kepengurusan dan tata kelola organisasi olahraga terbesar di Kalimantan Selatan, dapat membawa perubahan bagi perbaikan olahraga itu sendiri. Bukan sekedar gonta-ganti orang atau bongkar pasang susunan pengurus, namun mental, semangat dan cara kerja, tidak pernah diubah.

Penting untuk untuk diketahui, daerah atau negara sekali pun, dapat maju melalui olahraga, bila dikelola dengan sungguh-sungguh, tidak sekedar atau “sahibar” ada, apalagi “dibulantik” untuk kepentingan diri sendiri dengan alasan mencari penghidupan. Kemajuan olahraga, adalah harga diri dan simbol keseriusan pengelolaan sumber daya manusia. (nm)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *