Aliansi Dayak Kalsel Gelar Isra Miraj Nabi Muhammad SAW Sekaligus Haul Guru Sekumpul ke- 17

TARGETPOST.NET – BANJARMASIN Peringatan Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW yang digelar Aliansi Dayak Kalimantan Bersatu (ADKAB) Kalsel sekaligus haul Guru Sekumpul ke 17 berjalan dengan hikmat.
Diiringan sholawat bergema syahdu di acara yang dihadiri Habib Salahuddin Baaga ketua Rabitha Banjarmasin, Al Habib Ali Khaidir bin Hassan Al-Kaf, ketua komisi hubungan antar umat beragama prov Kalimantan Selatan, Habib Muchdar Hassan Assegaf, penasehat Rabitha Banjarmasin, Serta bertempat di jalan A.Yani km 5,7 Gg karya mufakat komplek karya sekjati no 39 Rt 31 Banjarmasin, Sabtu (26/2) pagi tadi.
Tampak perwakilan dari ADKAB kab Pelaihari, ADKAB kab Banua Lima, unsur Pemerintahan, TNI/Polri, ketua RT/RW dan tokoh masyarakat lainnya turut hadir.
Ketua Panitia, Husin Hamdani menyampaikan rasa syukurnya dan ucapan terima kasihnya terhadap para tamu yang hadir.
“Semoga kita bisa terus bersilaturrahmi dan menggelar acara seperti ini,” jelasnya.
Sementara ketua umum Aliansi Dayak Kalimantan Bersatu (ADKAB) Robby M Ngaki, mengungkapkan bahwa Suku Dayak memiliki filosofi diusung dalam Rumah Betang. Di dalam keluarga besarnya memiliki kepercayaan agama berbeda-beda. Ada yang Islam, Kristen dan lainnya. 
Namun sebagai keluarga bisa terjalin kerukunan dan harmonisasi di antara anggota keluarga yang berbeda-beda. 
” Eratnya hubungan keluarga Suku Dayak walaupun berbeda keyakinan dimungkinkan karena falsafah Rumah Betang. Keluarga besar bersatu dalam sebuah rumah yang sejak dulu hingga sekarang terus mengakar. Saya yakin falsafah Rumah Betang ini akan terus terpelihara dan tak lekang oleh zaman. Dan masyarakat Dayak dengan berbagai keberagaman tetap bisa bersatu,” tuturnya.
“Karena kesukuan itu bukan kehendak individu, sementara agama itu adalah pilihan sehingga hal itu tidak akan merusak kebersamaan,” ucapnya.
Disinggung tentang kaum milenial, ia berpesan, sebagai generasi muda tetaplah meneruskan nilai-nilai budaya warisan leluhur. Arus globalisasi ternyata kian menyeret generasi muda ke arah budaya asing dan melupakan warisan leluhur sendiri.
“Kita menghadapi arus globalisasi akan tetapi jangan sampai malah meninggalkan budaya daerah kita,” pungkasnya. Tim

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *